Tuesday, 14 January 2014

Menulis Laporan

    Pernahkah Anda menyusun sebuah laporan? Laporan dapat di tulis dengan menggunakan beberapa model, yaitu model penulisan naratif (cerita), deskripsi (penggambaran), dan ekspositif (penguraian). Sebuah laporan dapat di sampaikan dalam bentuk tulis maupun lisan.
    Menulis laporan berarti menyampaikan suatu keterangan mengenai peristiwa atau hal kepada pihak lain. Ada beberapa hal yang perlu di perhatikan dalam penulisan laporan. Laporan hendaknya di tulis dengan bahasa yang baik dan jelas.  Kata dan kalimat yang di gunakan harus mempunyai ketepatan dan kejelasan makna dan menghindari timbulnya tafsiran ganda. Isinya harus di sajikan secara sistematis dan menggunakan penalaran yang jelas. Sebelum menulis laporan, Anda harus memahami jenis laporan yang akan di susun.
Jenis-jenis laporan sebagai berikut.
1.  Laporan pengamatan
         Laporan pengamatan merupakan kegiatan meninjau sesuatu secara cermat. Agar akurat terhadap apa yang di amati, pengamat perlu mempersiapkan lembaran pengamatan atau blangko pengamatan sebagai instrumen. Laporan pengamatan di buat sesuai dengan hasil pengamatan yang sudah terkumpul dalam lembar pengamatan.
2.  Laporan penelitian
         Laporan penelitian mempuyai bentuk yang sudah baku. Hal ini menjadi syarat mutlak dari suatu kegiatan penelitian. Dalam program penelitian mencakup kegiatan penyusunan proposal, pelaksanaan penelitian, dan penelitian laporan. Adapun kerangka laporan penelitian mencakup pendahuluan, tinjauan kepustakaan, metode, hasil penelitian, dan penutup.
3.  Laporan pengalaman
         Laporan pengalaman disebut juga dengan laporan perjalanan, yaitu pengalaman/perjalanan ke suatu daerah (tujuan). Laporan perjalanan disusun dengan maksud agar orang lain mengetahui pengalaman yang menarik itu.
4.  Laporan hasil diskusi
         Laporan hasil diskusi adalah kegiatan yang rutin dilaksanakan di sekolah. Dalam diskusi yang bertugas mencatat proses dan hasil diskusi adalah skertaris. Laporan hasil diskusi dijabarkan berdasarkan notulen yang sudah ditulis.
Laporan pengamatan dan penelitian bersifat ilmiah. Kedua laporan ini termasuk ke dalam wacana teknis, maka penulisan laporan harus menggunakan bahasa Indonesia yang baku. Bahasa yang memerhatikan penggunaan ejaan, diksi, dan bentuk yang baik dan benar sesuai EYD. Hal ini disebabkan ragam bahasa baku muncul sebagai tolak ukur. Dalam mengembangkan kereangka laporan menjadi sebuah laporan yang lengkap, selain bahasanya harus baik dan benar, juga harus di pahami oleh pembaca. Oleh karena itu, di perlukan penggunaan bahasa komunikatif dan memerhatikan struktur penulisan.

Berikut ini struktur penulisan laporan ilmiah.
1.  Judul
2.  Nama kegiatan
3.  Latar belakang
4.  Tujuan pengamatan
5.  Waktu pelaksanaan
6.  Tempat lokasi pengamatan
7.  Metode yang di gunakan
8.  Hasil
9.  Penutup (simpulan dan saran)

     Langkah pertama yang harus di lakukan untuk menyusun laporan adalah membuat kerangka laporan, kemudian dikembangkan dalam beberapa paragraf yang tersusun secara baik dab benar, Pengembangan kerangka laporan memuat pola pengembangan dengan urut ruang, waktu, dan tema. Sebelum membuat kerangka laporan Abda juga perlu mencari catatan atau referensi(buku, majalah, koran, brosur, dan sebagainya) yang berhubungan dengan objek laporan.
Adapun bahasa yang digunakan dalam laporan formal sebagai berikut.
1.  Lugas, jelas, dan teratur
2.  Gaya bahasa yang di gunakan harus sesuai dengan bahasa teknis dan disiplin ilmu.
3.  Objektif impersonal dan tidak boleh memihak.
4.  Menghindari penggunaan kata ganti orang pertama (saya, kami) dan kedua, kecuali penggunaan kata kami untuk laporan yang bersifat institusional (badan atau satuan tugas).

No comments:

Post a Comment